Pages

Tampilkan postingan dengan label DUNIA ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DUNIA ANAK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Bila Si Kecil Banyak Bertanya

Pet! Listrik tiba-tiba padam, malam itu. Dengan sigap, abi segera menyalakan lampu minyak. Si 3th mengamati lampu minyak itu dengan penuh rasa ingin tahu. Tak lama kemudian, muncullah beberapa pertanyaan dari bibir mungilnya.
“Itu apa Bi?” “Itu lampu minyak, Sayang.” “Kok pakai lampu minyak kenapa Bi?” “Karena listrik mati.” “Listriknya kok mati kenapa toh Bi?” “Ya…mungkin karena tadi ada hujan deras.” “Kok tadi ada hujan deras kenapa Bi?” “Tadi di langit kan ada awan hitam, awan itu sekumpulan air, kalau turun jadi hujan.” Bla…bla…bla….Demikianlah pertanyaan si kecil bagai tak ada habisnya. Abinya pun dengan sabar menjawab pertanyaan putri sulungnya.

Rasa Ingin Tahu, Jangan Dimatikan
Anak-anak berusia 2-5 tahun memang seringkali mengajukan banyak pertanyaan kepada orangtua atau pengasuhnya. Pertanyaan mereka biasanya tidak jauh dari apa yang mereka temui, amati atau rasakan. Yang mendorong mereka mengajukan pertanyaan adalah besarnya rasa ingin tahu mereka terhadap segala sesuatu.
Sebenarnya, kita semua memiliki bekal rasa ingin tahu ini semenjak lahir. Kehebatan rasa ingin tahu inilah yang membuat bayi bisa merangkak, berjalan, dan bicara. Selanjutnya, rasa ingin tahu ini akan menentukan kualitas perkembangan otak mereka. Sayangnya, orangtua banyak melakukan intervensi negatif sehingga naluri penting ini terkubur dalam-dalam
Seringkali orangtua tak mau menjawab pertanyaan anak-anaknya yang menurut mereka terdengar konyol, lugu, dan seperti dibuat-buat. Seakan tak ada gunanya kalaupun orangtua mau repot-repot menjawabnya. Hal ini menjadikan anak belajar untuk mematikan rasa ingin tahunya. Setelah pertanyaan-pertanyaannya tak pernah dijawab, anak pun jadi malas untuk bertanya lagi, dan jadi tak peduli pada segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tindakan orangtua yang mematikan rasa ingin tahu anak itu sungguh tidak mendidik dan berpengaruh buruk terhadap perkembangan otak anak.
Sebagian kecil orangtua memang ada yang sangat mendukung perkembangan intelektual anaknya. Mereka bukan hanya menjawab pertanyaan anak, tetapi juga berusaha melakukan sesuatu untuk semakin menumbuhkan rasa ingin tahu sang anak. Mereka mendorong anak untuk bertanya dan terus bertanya, hingga anak sendiri yang kehabisan pertanyaan. Untuk itu, para orangtua ini menyediakan waktu sebanyak mungkin, karena mereka tahu, sepatah kata jawaban bisa menjadi sangat berarti bagi perkembangan sel saraf otak anak.
Perlu Kesabaran
Orangtua yang tidak sabaran, mungkin cuma diam atau menjawab ‘tidak tahu’ saat ditanya sang anak. Kadang, pertanyaan anak malah dijawab dengan bentakan, “Sudah diam! Jangan tanya-tanya terus. Ibu capek.”
Memang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak itu diperlukan kesabaran, di samping perhatian dan kepandaian dalam menjawab. Seorang ibu yang sudah disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah, mungkin akan lelah menghadapi seribu satu macam pertanyaan anaknya. Demikian juga dengan sang ayah yang sudah bekerja seharian mencari nafkah. Rasa lelah itu bisa menghilangkan mood untuk sekadar menjawab sang anak.
Bukankah jika kita menyatakan siap punya anak, secara otomatis kita juga harus siap ‘direpoti’? Adalah salah besar jika hanya karena alasan sibuk atau capek, lalu orangtua mematikan rasa ingin tahu sang anak. Sebisa mungkin, walau sedang sibuk bekerja, kita tetap berusaha memberi perhatian pada anak. Sambil memasak, seorang ibu bisa menjawab pertanyaan anak. Sambil membersihkan rumah pun bisa terus mengobrol dengan mereka.
Sekali lagi, dalam hal ini memang dibutuhkan kesabaran tinggi. Dalam menjawab pun kita harus menunjukkan perhatian, yang bisa ditampakkan lewat mimik muka dan cara menjawab dengan nada bersungguh-sungguh.
Jawablah dengan Benar
Orangtua tak perlu memberikan jawaban panjang atau berbelit-belit, sehingga malah sulit dimengerti anak. Cukuplah menjawab pertanyaan anak dengan jawaban pendek dengan bahasa yang disesuaikan dengan pemahaman anak. Jangan pernah menjawab pertanyaan anak dengan sembarangan. Jika menjawab, jawablah dengan benar. Jika orang tua tidak tahu jawaban yang benar, tak usah mencoba berbohong. Lebih baik katakan tidak tahu, dan cobalah menerangkan di lain waktu bila jawabannya sudah didapat. Sebagaimana contoh kasus di awal tulisan ini, Abu Asma’ berusaha menjawab pertanyaan putrinya dengan jawaban-jawaban pendek yang mudah dipahami.
Beruntunglah anak bila orangtuanya selalu berusaha menjawab pertanyaannya dengan benar. Selain bisa memuaskan hatinya, jawaban itu juga akan menambah pengetahuan dan wawasannya. Sayangnya, tak sedikit orangtua yang suka memberikan jawaban tidak benar pada anak. Misalnya saat Hasan (5) bertanya pada ibunya tentang gempa yang menyebabkan genting-genting di rumahnya melorot ke bawah. “Kok terjadi gempa kenapa Bu?” “Karena ada raksasa besar yang mengamuk di dalam laut, jadi bumi bergoncang.” Mungkin jawaban tersebut bisa diterima oleh daya imajinasinya, akan tetapi jawaban itu tidak menambah perbendaharaan pengetahuannya. Jawaban semacam ini sangat tidak bermanfaat, dan harus dijauhi oleh para orangtua. Seharusnya pertanyaan Hasan bisa dijawab, “Gempa itu penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya karena ada gunung meletus di daratan atau lautan, jadi bumi bergoncang.” Jika Hasan masih penasaran dengan sebab-sebab gempa lainnya, ibu bisa mencarikan referensi, misalnya buku atau majalah yang membahas tentang gempa, untuk dibacakan atau dibaca sendiri oleh Hasan.
Kemampuan Otak Balita
Mungkin kita mengira, anak-anak balita itu selain lugu juga tak tahu apa-apa tentang alam semesta kehidupannya. Tapi adalah kesalahan besar jika kita menganggap mereka bodoh, karena mereka mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang jauh lebih hebat dari yang kita pikirkan. Dari sekian banyak pertanyaannya yang dia ajukan dalam sehari, pasti ada yang masuk dan direkam baik-baik dalam otaknya. Ya, balita memang memiliki kemampuan menangkap pengetahuan dengan hebat, karena otak mereka belum dipengaruhi untuk memikirkan hal-hal lain.
Sebuah pertanyaan saja, bagi anak ibarat mempelajari sebuah bab pelajaran di sekolah sebagaimana yang dipelajari kakak-kakaknya. Maka jawabannya akan sangat berarti untuk mengasah ketajaman otaknya.
Yang perlu dikhawatirkan justru kalau anak terlalu pendiam, dan tidak ingin tahu banyak tentang segala sesuatu. Ia tidak pernah bertanya, dan tidak tertarik dengan adanya benda baru. Anak seperti ini harus ‘dipancing’ untuk membangkitkan rasa ingin tahunya. Orangtua bisa memulai dengan mengajukan pertanyaan, “Azmi, mengapa kalau siang tampak terang dan malam tampak gelap?” Atau, “Kamu dan ayam sama-sama punya kaki. Mengapa kamu bisa menendang bola, ayam tidak?” Dengan pertanyaan menarik diharapkan anak akan terangsang, kemudian menanyakan segala sesuatu. Makin sering orangtua memancing dengan berbagai pertanyaan menarik, tentu anak akan meniru tindakan orangtua.
Untuk mengembangkan kemampuan anak bertanya, bimbinglah anak untuk mempraktikkan kunci utama pertanyaan, yaitu 5W+1H. Yang dimaksud 5W+1H adalah what (apa), when (kapan), where (di mana), who (siapa), why (mengapa) dan how (bagaimana)
Selain itu orang tua juga bisa menyediakan buku bacaan atau majalah islami untuk anak-anak. Melihat gambar-gambarnya yang menarik dan berwarna-warni, bisanya anak-anak akan tertarik untuk mempertanyakan apa yang ia lihat. Jika anak tetap belum banyak bertanya seperti yang kita harapkan, maka orangtua yang harus aktif menyakan segala sesuatu tentang gambar-gambar atau kisah di buku tersebut. Yang mesti disadari, proses ini membutuhkan waktu dan memerlukan kesabaran. Semoga kita memiliki putra-putri yang shalih dan pintar.

Mengatasi Anak Manja















Sayang anak tidak pernah salah namun jika kasih sayang yang terlalu berlebihan seperti terlalu memanjakan anak tersebut dapat berakibat pada gangguan perkembangan pada diri sang anak, yang bisa terbawa sampai usia dewasa. Sedangkan sikap manja muncul pada diri anak disebabkan oleh kecenderungan anak untuk menuntut perhatian dan dilayani oleh orang lain. Anak yang manja memiliki sikap ragu-ragu atau cemas pada kondisi asing (baru).
Anak yang manja biasanya akan sangat tergantung dari objek lekatnya. Anda manja biasanya ketika menjelang usia satu tahun kemanjaan tersebut mulai muncul, usia puncak manja pun muncul pada fase usia TK, saat anak dituntut untuk dapat bersikap mandiri dan disiplin, di usia TK anak mulai dipisahkan dari objek lekatnya untuk beberapa saat.

Adapun penyebab anak menjadi manja dikarenakan:
1. Perilaku pada anak yang manja disebabkan oleh pola asuh yang bersifat permisif.
2. Sikap manja sangat sering terjadi pada anak pertama dan pada anak bungsu, pengaruh usia atau jarak kelahiran antara saudara yang lainnya terlalu jauh. Karena sang anak merasa satu-satunya pusat perhatian  dan selalu dilayani maka ketika anak mendapat saudara yang baru (adik baru) maka sia anak akan mengalami regresi (penurunan) hal ini dikarenakan anak akan mempertahankan perilaku manjat yang sangat.
Sikap manja terjadi ketika orangtua yang dahulunya mendapatkan pola asuh yang cenderung tertekan atau merasa kurang bebas, maka orangtua bersikap serba membolehkan anak, maka tanpa terasa orangtua telah mencetak anaknya menjadi individu yang manja.

Adapun cara mengatasi anak yang manja secara berlebihan (manja yang sampai menganggu kemandirian anak) yaitu:
1. Usahakan tidak memberikan pola asuh yang berpusat pada sikap permisif, jika menarapkan sikap asuh yang permisif maka dapat menciptkan anak yang manja.
2. Ketika anak menuntut segala sesuatu yang berlebihan dan anda (orangtua) justru diatur dan dikondisikan oleh anak maka sebaiknya anak tidak dijadikan sebagai pusat perhatian.
3. Libatkan anak pada kegiatan social, usaha ini dilakukan agar anak dapat banyak melihat, belajar dan berinteraksi lebih luas. Jadi tidak selamanya anak terpusat untuk menjadi pusat pehatian.
4. Ketika anak menunjukan sikap manjanya maka orangtua atau pendidik dapat mengalihkan perhatian anak pada hal atau kegiatan yang disukai anak.
5. Beri kesemapatan akan untuk bermain bersama anak-anak lain, ini untuk menimbulkan sikap pengertian dan berbagi, sehingga anak memiliki kedewasaan dalam bersikap.
6. Orang tua selalu memberi contoh atau teladan perilaku saling kerjasama (gotongroyong atau saling menolong dihadapan anak)
7. Beri sentuhan fisik kasih saying (pelukan, ciuman, belaian) pada anak untuk menenangkan sikap anak yang memunculkan kemanjaannya.
8. Ketika akan memasukan anak kesekolah baru atau situasi baru, maka sikap orangtua adalah bersama anak dulu untuk beberapa saat, ajak anak bermain dahulu, hal ini untuk mengalihkan perhatian anak sebelum berpamitan meninggalkan atau berpisah dengan anak.
9. Berilah kalimat untuk menyakinkan anak dan menenangkan anak jika dalam situasi anak merasa sulit (manja)
Beri semangat dan motivasi selalu pada anak dan beri waktu untuk anak ketika memunculkan perilaku manjanya tersebut. Dalam hal ini orangtua butuh kesabaran dalam menghadapi ananda.

KIAT AGAR ANAK GEMAR MEMBACA

Tentunya kita merasa senang jika putra-putri kita gemar membaca, baik itu bacaan sekolah (pelajaran sekolah) atau sekedar bacaan ringan seperti buku cerita atau majalah.
Seperti yang tertulis dalam buku karangan Mary Leonhardt yang berjudul 99 cara Menjadikan Anak  ”Keranjingan”  Membaca (Penerbit Kaifa, 2000), beliau adalah seorang yang rajin mempromosikan pentingnya buku dikenalkan pada anak sedari kecil, di sini saya mencoba untuk merangkum beberapa tips yang bisa kita ambil dari buku Mary Leonhardt tersebut diantaranya ialah :
  1. Bila anak belum bisa membaca, berilah kebebasan pada anak utk memilih  sendiri buku apa yang dia suka untuk dibacakan, ini adalah salah satu kiat untuk menjadikan anak suka buku. Biarkan anak-anak memilih buku yang mungkin menurut kita kacangan atau kurang bermutu, biarkan mereka memilih buku yang sama berulang-ulang dan ingin dibacakan berulang-ulang pula (walaupun kita yang membacanya  sampe bosan setengah mati tapi tak mengapa), yang penting anak-anak menyadari bahwa kita menghormati mereka sehingga mereka merasa nyaman dan juga menikmatinya.
  2. Biasakanlah membacakan buku dengan sikap santai, ciptakanlah suasana kegembiraan, misalkan sesekali mengucapkan kata-kata  dalam buku tersebut dengan keliru supaya merangsang mereka untuk memperbaiki kesalah/kekeliruan anda. berkisahlah dengan beragam suara dan tertawalah bersama-sama, jadikanlah membaca sebagai saat-saat menyenangkan dan penuh kekonyolan canda tawa.
  3. Jika perhatian anak mulai mengendur, maka percepatlah bacaan anda. Karanglah akhir cerita dengan kontekstual yang anda perlukan, misalnya : “Dan sekarang anak beruang harus mandi – sama seperti anak bunda ini….!!”
  4. Hal yang tak kalah penting ialah dengan melibatkan kegiatan membaca buku dengan bermain, misalnya mendorong anak untuk membacakan dongeng kepada bonekanya sebelum tidur atau bermain tentang kegiatan ditoko buku atau perpustakaan, ini penting agar buku selalu menjadi bagian dari keseharian anak-anak.
  5. Bila anak sudah mulai bisa membaca sedikit-sedikit maka sebaiknya orang tua jangan terlalu sering membacakan cerita untuk mereka agar mereka tidak terlalu bergantung pada kita, ini bertujuan agar anak-anak keranjingan membaca bukan hanya terpesona dengan cerita orang tuanya dan agar anak-anak tidak manja atau malas membaca sendiri.    Salah satu cara agar anak menjadi mandiri dalam membaca ialah dengan berpura-pura kelelahan atau mengantuk ketika membacakan cerita sehingga tak sanggung menyelesaikan cerita dan minta anak untuk melihatnya sendiri buku cerita tersebut, tindakan ini akan mendorong anak untuk mo  berusaha membaca sendiri apalagi bila ceritanya menarik dan buku ceritanya itu favoritnya.
  6. Penuhi rumah dengan buku, untuk membiasakan anak suka buku ialah dengan membuat buku ada di sekeliling anak sejak kecil, taruhlah buku di tempat yang mudah di jangkau anak-anak sehingga anak bisa mengambilnya kapan pun ia suka.
  7. Terakhir yang amat penting agar anak suka membaca ialah orangtua juga harus rajin membaca, anak-anak adalah peniru yang baik, mereka akan meniru apa yang biasa dilakukan orangtuanya, jadi bila ingin anak gemar membaca maka tunjukanlah bahwa anda sebagai orangtua juga adalah pembaca yang baik, baik buku maupun media cetak lainnya. Pendeknya, orangtua harus memperlihatkan kalau membaca itu adalah kegiatan yang  mengasyikkan! dengan demikian kita berharap anak kita memfotocopy perilaku ini  dan mereka juga jadi suka membaca
Demikian tips agar anak gemar membaca, semoga bermanfaat….

MENGATASI ANAK GALAK….

Perilaku anak yang galak seperti suka memukul dan menendang teman atau orang yang tidak disukainya kadang membuat kita kerepotan karena bisa jadi ia akan dijauhi oleh teman-temannya, perilaku ini membutuhkan arahan orang dewasa sehingga ia mampu mengalihkan ekspresi emosi pada prilakku yang lebih bisa diterima oleh lingkungan. Di sini peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengarahkan anak dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya, tanpa arahan yang jelas dan tegas , anak semakin sering menampilkan prilaku tersebut.
Untuk mengatasi masalah tersebut ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai orang tua yaitu :
  1. Amati prilaku orang dewasa dan anak-anak yang ada di sekitarnya, adakah yang berprilaku kasar seperti itu? jika ada maka prilaku kasar/galak akan semakin menguat karna anak mencontoh dan meniru orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu sebisa mungkin jauhi tindak kekerasan dari anak kita.
  2. Prilaku kasar/galak bisa didasari oleh perasaan tidak nyaman atau tidak aman, sebagai orang tua kita perlu menggali perasaan anak dan mencari tau hal-hal apa saja yang membuatnya tidak senang atau yang membuatnya senang.
  3. Arahan yang tegas dan jelas, bila anak akan memukul katakan padanya “tidak boleh” dan jelaskan kalau dipukul itu sakit jadi kamu tidak boleh memukul. Biasanya pada anak usia 3 tahun keatas biasanya dia mulai mempertahankan keinginannya, oleh karena pada usia ini anak bila dilarang akan semakin terdorong utk melakukan. Daripada melarang anak lebih baik mengalihkan perhatiannya atau bersikap tegas dengan memberikan konsekuensi dengan tindakan, misalnya menghentikan aktifitasnya dan membuatnya diam sejenak di tempat yg berbeda.
  4. Tangkap perasaan anak, misalnya dengan mengatakan : “kakak kesal yaa..sini nak peluk mamah…kakak cerita yaa apa yang bikin kamu kesal?” dengarkan anak cerita dan bilang padanya “iya mamah mengeri kenapa kamu kesal…tapi kamu tetap tidak boleh memukul teman kamu karna memukul itu membuat orang jadi sakit”. cara ini bisa mengajarkan anak untuk belajar cara menyampaikan perasaannya.
  5. Ajari anak untuk berani mengeluarkan  perasaannya, kenali ia dengan kata tidak mau, tidak boleh, hentikan dan sebagainya.
  6. Semarah apapun kita tidak dibenarkan memukul atau  mencubit sebagai cara mendisiplinkan anak karena anak akan semakin menyakini klu tindakan kekerasan itu wajar untuk menyatakan ketidak nyamanan, oleh karena itu tidak perlu malu untuk meminta maaf pada anak bila tindakan kita salah.
  7. Terakhir, dalam membesarkan anak bukan hanya mengasuh dan menyediakan kebutuhannya saja tapi kehadiran dan peran serta orang tua dalam hal mendampingi, mendidik dan mengajari banyak hal adalah sangat penting utk tumbuh kembang anak.
mudah2an anak2 kita menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan menjadi penyejuk hati kita amien…