Pages

Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Januari 2013

Nabi Musa & Batu Yang Melarikan Bajunya

Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu a’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bani Israil biasa mandi dengan bertelanjang; satu sama lain saling melihat anggota badan temannya. Tetapi Nabi Musa mandi seorang diri.

Mereka mengatakan, ‘Demi Allah! Tidak ada yang melarang Musa mandi bersama-sama dengan kita kecuali karena dia berpenyakit, buah pelirnya besar.’

Pada suatu kali Nabi Musa mandi, kainnya diletakkan di atas batu, lalu batu itu melarikan kain Nabi Musa dan beliau menyusulnya sambil berteriak, ‘Kainku! Kainku! Hai Batu.’

Sehingga oleh karena itu, Bani Israil dapat melihat (aurat) Nabi Musa lantas mereka berkata, ‘Demi Allah! Musa tidak berpenyakit apa-apa.’

Lalu Nabi Musa mengambil kainnya dan dipukulnya batu itu.”

Abu Hurairah berkata, “Pada batu itu terdapat enam atau tujuh bekas pukulan.”

Dan turunlah ayat yang berkenaan dengan cerita ini, artinya,

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia orang yang mempunyai kedudukan di sisi Allah.’ (Al-Ahzab: 69). [1]

PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:

1. Dalam keadan darurat diperbolehkan telanjang, adapun dalam kondisi wajar Rasulullah shalallohu 'alaihi wasallam telah bersabda kepada Muawiyah bin al-Hakam, ‘Jagalah auratmu kecuali untuk istrimu atau budak-budak yang kamu miliki.’

2. Ketika darurat seperti pengobatan dan lain-lain diper-bolehkan melihat aurat orang lain.

3. Diperbolehkan mandi telanjang jika seorang diri, dan yang lebih utama adalah memakai penutup.

4. Syariat umat sebelum Nabi Muhammad jika bertentangan dengan syariat Muhammad tidak menjadi syariat Muhammad.

5. Para nabi adalah manusia-manusia yang berparas dan berakhlaq sempurna.

6. Para nabi sebagaimana manusia, mempunyai sifat-sifat yang manusiawi, mereka bisa marah dan memukul.

7. Menerangkan keteguhan dan kesabaran para nabi atas perilaku orang-orang bodoh dan gangguan mereka.

8. Keutamaan rasa malu. Malu merupakan akhlaq mulia dan sifat para nabi.

____________________

ISLAMNYA SALMAN AL-FARISI

Dari Abdullah bin Abbas Radhiallaahu 'anhu berkata, "Salman al-Farisi menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, 'Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian, aku seperti seorang budak saja.

Aku dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sehingga aku sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam.

Ayahku memiliki tanah perahan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk mengurus bangunan. Beliau berkata kepadaku, 'Wahai anakku, hari ini aku sibuk di bangunan, aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi ke sana!' Beliau menyu-ruhku melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Aku keluar menuju tanah ayahku. Dalam perjalanan aku melewati salah satu gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka yang sedang sembahyang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahku mengharuskan aku tinggal di dalam rumah saja (melarang aku keluar rumah).

Tatkala aku melewati gereja mereka, dan aku mendengar suara mereka sedang shalat maka aku masuk ke dalam gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan?

Begitu aku melihat mereka, aku kagum dengan shalat mereka, dan aku ingin mengetahui peribadatan mereka. Aku berkata dalam hati, 'Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut selama ini.'
Demi Allah, aku tidak beranjak dari mereka sampai matahari terbenam. Aku tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku. Aku bertanya kepada mereka, 'Dari mana asal usul agama ini?' Mereka menjawab, 'Dari Syam (Syiria).'

Kemudian aku pulang ke rumah ayahku. Padahal ayahku telah mengutus seseorang untuk mencariku. Sementara aku tidak mengerjakan tugas dari ayahku sama sekali. Maka ketika aku telah bertemu ayahku, beliau bertanya, 'Anakku, ke mana saja kamu pergi?
Bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang aku perintahkan itu?' Aku menjawab, 'Ayah, aku lewat pada suatu kaum yang sedang sembahyang di dalam gereja, ketika aku melihat ajaran agama mereka aku kagum. Demi Allah, aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam.'

Ayahku menjawab, 'Wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikitpun dalam agama itu. Agamamu dan agama ayahmu lebih bagus dari agama itu.' Aku membantah, 'Demi Allah, sekali-kali tidak! Agama itu lebih bagus dari agama kita.' Kemudian ayahku khawatir dengan diriku, sehingga beliau merantai kakiku, dan aku dipenjara di dalam rumahnya.

Suatu hari ada serombongan orang dari agama Nasrani diutus menemuiku, maka aku sampaikan kepada mereka, 'Jika ada rombongan dari Syiria terdiri dari para pedagang Nasrani, maka supaya aku diberitahu.' Aku juga meminta agar apabila para pedagang itu telah selesai urusannya dan akan kembali ke negrinya, memberiku izin bisa menemui mereka.

Ketika para pedagang itu hendak kembali ke negrinya, mereka memberitahu kepadaku. Kemudian rantai besi yang meng-ikat kakiku aku lepas, lantas aku pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syiria.

Sesampainya aku di Syiria, aku bertanya, 'Siapakah orang yang ahli agama di sini?' Mereka menjawab, 'Uskup (pendeta) yang tinggal di gereja.' Kemudian aku menemuinya. Kemudian aku berkata kepada pendeta itu, 'Aku sangat mencintai agama ini, dan aku ingin tinggal bersamamu, aku akan membantumu di gerejamu, agar aku dapat belajar denganmu dan sembahyang bersama-sama kamu.' Pendeta itu menjawab, 'Silahkan.'
Maka akupun tinggal bersamanya.

Ternyata pendeta itu seorang yang jahat, dia menyuruh dan menganjurkan umat untuk bersedekah, namun setelah sedekah itu terkumpul dan diserahkan kepadanya, ia menyimpan sede-kah tersebut untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada orang-orang miskin, sehingga terkumpullah 7 peti emas dan perak.

Aku sangat benci perbuatan pendeta itu. Kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani pun berkumpul untuk menge-bumikannya. Ketika itu aku sampaikan kepada khalayak, 'Sebe-narnya, pendeta ini adalah seorang yang berperangai buruk, menyuruh dan menganjurkan kalian untuk bersedekah. Tetapi jika sedekah itu telah terkumpul, dia menyimpannya untuk diri-nya sendiri, tidak memberikannya kepada orang-orang miskin barang sedikitpun.'

Mereka pun mempertanyakan apa yang aku sampaikan, 'Apa buktinya bahwa kamu mengetahui akan hal itu?' Aku menjawab, 'Marilah aku tunjukkan kepada kalian simpanannya itu.' Mereka berkata, Baik, tunjukkan simpanan tersebut kepada kami.'
Lalu Aku memperlihatkan tempat penyimpanan sedekah itu. Kemudian mereka mengeluarkan sebanyak 7 peti yang penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka menyaksikan betapa banyaknya simpanan pendeta itu, mereka berkata, 'Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburnya.' Kemudian mereka menyalib pendeta itu pada tiang dan melempari jasadnya dengan batu.

Kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai peng-gantinya. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tidak me-ngerjakan shalat lima waktu (bukan seorang muslim) yang lebih bagus dari dia, dia sangat zuhud, sangat mencintai akhirat, dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintai-nya dengan cinta yang tidak pernah aku berikan kepada selainnya. Aku tinggal bersamanya beberapa waktu.

Kemudian ketika kematiannya menjelang, aku berkata kepadanya, 'Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersamamu, dan aku sangat mencintaimu, belum pernah ada seorangpun yang aku cintai seperti cintaku kepadamu, padahal sebagaimana kamu lihat, telah menghampirimu saat berlakunya taqdir Allah, kepada siapakah aku ini engkau wasiatkan, apa yang engkau perin-tahkan kepadaku?'

Orang itu berkata, 'Wahai anakku, demi Allah, sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi siapa yang mempunyai keyakinan seperti aku.
Orang-orang yang aku kenal telah mati, dan masya-rakatpun mengganti ajaran yang benar dan meninggalkannya sebagiannya, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (kota di Irak), yakni Fulan, dia memegang keyakinan seperti aku ini, temuilah ia di sana!'

Lalu tatkala ia telah wafat, aku berangkat untuk menemui seseorang di Mosul. Aku berkata, 'Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dia memberitahuku bahwa engkau memiliki keyakinan sebagaimana dia.'

Kemudian orang yang kutemui itu berkata, 'Silahkan tinggal bersamaku. Aku pun hidup bersamanya.' Aku dapati ia sangat baik sebagaimana yang diterangkan Si Fulan kepadaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Dan ketika kematian menjelang, aku bertanya kepadanya, 'Wahai Fulan, ketika itu si Fulan mewa-siatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi, oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?'

Orang itu berkata, 'Wahai anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperti aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!'

Maka setelah beliau wafat, aku menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah aku bertemu dengannya, aku menceritakan keadaanku dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadaku.

Orang itu berkata, 'Silahkan tinggal bersamaku.' Sekarang aku mulai hidup bersamanya. Aku dapati ia benar-benar seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.

Namun, kematian hampir datang menjemputnya. Dan di ambang kematiannya aku berkata, 'Wahai Fulan, Ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, dan kemarin Fulan mewa-siatkan aku kepadamu? Sepeninggalmu nanti, kepada siapakah aku akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perin-tahkan kepadaku?'

Orang itu berkata, 'Wahai anakku, Demi Allah, tidak ada seorangpun yang aku kenal sehingga aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di Amuria (kota di Romawi). Orang itu menganut keyakinan sebagaimana yang kita anut, jika kamu berkenan, silahkan mendatanginya. Dia pun menganut sebagaimana yang selama ini kami pegang.'

Setelah seseorang yang baik itu meninggal dunia, aku pergi menuju Amuria. Aku menceritakan perihal keadaanku kepa-danya. Dia berkata, 'Silahkan tinggal bersamaku.'
Akupun hidup bersama seseorang yang ditunjuk oleh kawannya yang seke-yakinan.

Di tempat orang itu, aku bekerja, sehingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah pun berlaku untuknya. Ketika itu aku berkata, 'Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama si Fulan, kemudian dia mewasiatkan aku untuk menemui Si Fulan, kemudian Si Fulan juga mewasiatkan aku agar menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkan aku un-tuk menemuimu, sekarang kepada siapakah aku ini akan engkau wasiatkan?dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?'

Orang itu berkata, 'Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu ter-dapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!'

Kemudian orang inipun meninggal dunia. Dan sepening-galnya, aku masih tinggal di Amuria sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Pada suatu hari, lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, 'Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku?' Mereka menjawab, 'Ya.' Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka.

Mereka membawaku, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzha-limiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi.

Kini aku tinggal di tempat seorang Yahudi. Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan kepadaku. Aku tidak biasa hidup bebas.

Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, kepo-nakannya datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. Ia mem-beliku darinya. Kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebut-kan si Fulan kepadaku. Sekarang aku tinggal di Madinah.

Allah mengutus seorang RasulNya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah men-dengar ceritanya karena kesibukanku sebagai seorang budak. Kemudian Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah, ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku bekerja di perkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, 'Fulan,
Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini sedang berkumpul di Quba’ menyambut seseorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi.'

Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, 'Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan?' Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, 'Apa urusanmu menanyakan hal ini, Lanjutkan pekerjaanmu.'

Aku menjawab, 'Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan. Padahal sebe-narnya saya telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang nabi itu.'

Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian aku menuju Rasulullah a, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, 'Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.'

Aku pun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah a bersabda kepada para sahabat, 'Silahkan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, 'Ini satu tanda kenabiannya.'

Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah a pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, aku mendatangi beliau sambil berkata, 'Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepa-da engkau.'

Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pembe-rianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, 'Inilah tanda kenabian yang kedua.'

Selanjutnya aku menemui beliau Shallallahu 'alaihi wa salllam saat beliau berada di kuburan Baqi' al-Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat cincin yang dise-butkan Si Fulan kepadaku.

Pada saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.

Rasulullah bersabda kepadaku, 'Geserlahlah kemari,' maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagai-mana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah a ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu."

Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. "Rasulullah a suatu hari bersabda kepadaku, 'Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!' Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam mengumpulkan para sahabat dan bersabda, 'Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.' Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seo-rang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, 'Berang-katlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletak-kannya di tanganku.' Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam dan memberitahukan perihalku. Kemudian Rasulullah a keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam membawa emas sebesar telur ayam hasil dari ram-pasan perang. Lantas beliau bersabda, 'Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?' Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, 'Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebus-anmu wahai Salman!'

Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, 'Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberi kebaikan kepadanya.' Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah a dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti." [1]

PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:

1. Di antara hasil/buah mentaati kedua orang tua adalah dicintai orang.
2. Masuk penjara, cekal, rantai adalah cara musuh Islam menghalangi kaum muslimin dalam menegakkan agama Allah.
3. Jika gigih memperjuangkan keimanan maka urusan dunia terasa ringan.
4. Berpegang pada keimanan lebih kokoh dari seluruh rayuan.
5. Hendaknya seorang mukmin senantiasa siap mental menghadapi segala kemungkinan.
6. Terkadang orang-orang jahat mengenakan pakaian/ menampakkan diri sebagai orang baik-baik.
7. Jalan mencapai ilmu tidak bisa ditempuh melainkan dengan senantiasa dekat dengan orang yang berilmu.
8. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah memberikan jalan keluar dari problematika hidupnya.
9. Takaran keimanan seseorang adalah mencintai dan membenci karena Allah.
10. Di antara akhlak terpuji para nabi adalah mau men-dengarkan seseorang yang sedang berbicara dengan baik.
11. Seorang pemimpin hendaknya senantiasa memantau kondisi bawahannya.
12. Diperbolehkan membeli budak dari tawanan perang, menghadiahkan dan memerdekakannya.
13. Saling tolong menolong adalah gambaran dari wujud hidup bermasyarakat. 

Rabu, 26 Desember 2012

KISAH NABI ADAM AS



Setelah  Allah  s.w.t.menciptakan  bumi  dengan  gunung-gunungnya,  laut-lautannya  dan  tumbuh  -  tumbuhannya,  menciptakan  langit  dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan.
menciptakan malaikat-malaikatnya  ialah  sejenis  makhluk  halus  yang diciptakan  untuk
beribadah  menjadi  perantara  antara  Zat  Yang  Maha  Kuasa  dengan  hamba-hamba  terutama  para  rasul  dan  nabinya  maka  tibalah  kehendak  Allah  s.w.t.
untuk  menciptakan  sejenis  makhluk  lain  yang  akan  menghuni  dan  mengisi
bumi  memeliharanya  menikmati  tumbuh-tumbuhannya,mengelola  kekayaan
yang  terpendam  di  dalamnya  dan  berkembang  biak  turun-temurun  waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Kekhawatiran Para Malaikat.
Para  malaikat  ketika  diberitahukan  oleh  Allah  s.w.t.  akan  kehendak-Nya
menciptakan  makhluk  lain  itu,  mereka  khuatir  kalau-kalau kehendak  Allah
menciptakan  makhluk  yang  lain  itu,disebabkan  kecuaian  atau  kelalaian
mereka  dalam  ibadah  dan  menjalankan  tugas  atau  karena  pelanggaran  yang
mereka  lakukan  tanpa  disadari.  Berkata  mereka  kepada  Allah  s.w.t.:  "Wahai
Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal
kami  selalu  bertasbih,  bertahmid,  melakukan  ibadah  dan  mengagungkan
nama-Mu  tanpa  henti-hentinya,sedang  makhluk  yang  Tuhan  akan  ciptakan
dan  turunkan  ke  bumi  itu,nescaya  akan  bertengkar  satu  dengan  lain,akan
saling  bunuh-membunuh  berebutan  menguasai  kekayaan  alam  yang  terlihat
diatasnya  dan  terpendam  di  dalamnya,sehingga  akan  terjadilah  kerusakan
dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."

Allah berfirman, menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:
"Aku  mengetahui  apa  yang  kamu  tidak  ketahui  dan  Aku  sendirilah  yang
mengetahui  hikmat  penguasaan  Bani  Adam  atas  bumi-Ku.Bila  Aku  telah
menciptakannya  dan  meniupkan  roh  kepada  nya,bersujudlah  kamu  di


hadapan  makhluk  baru  itu  sebagai  penghormatan  dan  bukan  sebagai  sujud
ibadah,karena  Allah  s.w.t.  melarang  hamba-Nya  beribadah  kepada  sesama
makhluk-Nya."
Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari segumpal tanah liat,kering
dan  lumpur  hitam  yang  berbentuk.Setelah  disempurnakan  bentuknya
ditiupkanlah roh ciptaan  Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi
manusia yang sempurna

Iblis Membangkang.
Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat
yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi
makhluk  Allah  yang  akan  diberi  amanat  menguasai  bumi  dengan  segala  apa
yang  hidup  dan  tumbuh  di  atasnya  serta  yang  terpendam  di  dalamnya.Iblis
merasa dirinya lebih mulia,lebih utama  dan lebih agung dari Adam,karena ia
diciptakan  dari  unsur  api,sedang  Adam  dari  tanah  dan
lumpur.Kebanggaannya  dengan  asal  usulnya  menjadikan  ia  sombong  dan
merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang
lain,walaupun diperintah oleh Allah.
Tuhan  bertanya  kepada  Iblis:"Apakah  yang  mencegahmu  sujud  menghormati
sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?"
Iblis  menjawab:"Aku  adalah  lebih  mulia  dan  lebih  unggul  dari  dia.Engkau
ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur."
Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud
yang  diperintahkan,maka  Allah  menghukum  Iblis  dengan  mengusir  dari
syurga  dan  mengeluarkannya  dari  barisan  malaikat  dengan  disertai  kutukan
dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia
dinyatakan sebagai penghuni neraka.


Iblis  dengan sombongnya  menerima  dengan  baik  hukuman  Tuhan  itu  dan  ia
hanya  mohon  agar  kepadanya  diberi  kesempatan  untuk  hidup  kekal  hingga
hari  kebangkitan  kembali  di  hari  kiamat.Allah  meluluskan  permohonannya
dan  ditangguhkanlah  ia  sampai  hari  kebangkitan,tidak  berterima  kasih  dan
bersyukur atas pemberian jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan
menyesatkan  Adam,sebagai  sebab  terusirnya  dia  dari  syurga  dan
dikeluarkannya  dari  barisan  malaikat,dan  akan  mendatangi  anak-anak
keturunannya  dari  segala  sudut  untuk memujuk  mereka  meninggalkan  jalan
yang  lurus  dan  bersamanya  menempuh  jalan  yang  sesat,mengajak  mereka
melakukan  maksiat  dan  hal-hal  yang  terlarang,menggoda  mereka  supaya
melalaikan  perintah-perintah  agama  dan  mempengaruhi  mereka  agar  tidak
bersyukur dan beramal soleh.
Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi
isi  neraka  Jahanam  dan  bahan  bakar  neraka.Engkau  tidak  akan  berdaya
menyesatkan  hamba-hamba-Ku  yang  telah  beriman  kepada  Ku  dengan
sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah
oleh  rayuanmu  walaupun  engkau  menggunakan  segala  kepandaianmu
menghasut dan memfitnah." 

Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.
Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam
dan  menyakinkan  mereka  akan  kebenaran  hikmat-Nya  menunjuk  Adam
sebagai  penguasa  bumi,maka  diajarkanlah  kepada  Adam  nama-nama  benda
yang  berada  di  alam  semesta,kemudian  diperagakanlah  benda-benda  itu  di
depan  para  malaikat seraya:"Cubalah  sebutkan  bagi-Ku  nama  benda-benda
itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam."
Para  malaikat  tidak  berdaya  memenuhi  tentangan  Allah  untuk  menyebut
nama-nama  benda  yang  berada  di  depan  mereka.Mereka  mengakui  ketidak-sanggupan mereka dengan berkata:"Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami

tidak  memiliki  pengetahuan  tentang  sesuatu  kecuali  apa  yang  Tuhan  ajakan
kepada  kami.Sesungguhnya  Engkaulah  Yang  Maha  Mengetahui  dan  Maha
Bijaksana."

Adam  lalu  diperintahkan  oleh Allah  untuk  memberitahukan  nama-nama  itu
kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah
kepada  mereka:"Bukankah  Aku  telah  katakan  padamu  bahawa  Aku
mengetahui rahsia langit dan bumi dan  mengetahui apa yang kamu lahirkan
dan apa yang kamu sembunyikan." 

Adam Menghuni Syurga.
Adam  diberi  tempat  oleh  Allah  di  syurga  dan  baginya  diciptakanlah  Hawa
untuk  mendampinginya  dan  menjadi  teman  hidupnya,menghilangkan  rasa
kesepiannya  dan  melengkapi  keperluan  fitrahnya  untuk  mengembangkan
keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah
satu  tulang  rusuk  Adam  yang  disebelah  kiri  diwaktu  ia  masih  tidur  sehingga
ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh
malaikat:"Wahai  Adam!  Apa  dan siapakah  makhluk  yang  berada  di
sampingmu itu?"
Berkatalah  Adam:"Seorang  perempuan."Sesuai  dengan  fitrah  yang  telah
diilhamkan  oleh  Allah  kepadanya."Siapa  namanya?"tanya  malaikat
lagi."Hawa",jawab  Adam."Untuk  apa  Tuhan  menciptakan  makhluk  ini?",tanya
malaikat lagi.
Adam  menjawab:"Untuk  mendampingiku,memberi  kebahagian  bagiku  dan
mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah."
Allah  berpesan  kepada  Adam:"Tinggallah  engkau  bersama  isterimu  di
syurga,rasakanlah  kenikmatan  yang  berlimpah-limpah  didalamnya,rasailah
dan  makanlah  buah-buahan  yang  lazat  yang  terdapat  di  dalamnya  sepuas
hatimu  dan  sekehendak  nasfumu.Kamu  tidak  akan  mengalami  atau  merasa
lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku

ingatkan  janganlah  makan  buah  dari  pohon  ini  yang  akan  menyebabkan
kamu  celaka  dan  termasuk  orang-orang  yang  zalim.Ketahuilah  bahawa  Iblis
itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu
dan  menyeret  kamu  keluar  dari  syurga  sehingga  hilanglah  kebahagiaan  yang
kamu sedang nikmat ini." 

Iblis Mulai Beraksi.
Sesuai  dengan  ancaman  yang  diucapkan  ketika  diusir  oleh  allah  dari  Syurga
akibat  pembangkangannya  dan  terdorong  pula  oleh  rasa  iri  hati  dan  dengki
terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya  tersingkir  dari  singgahsana  kebesarannya.Iblis  mulai  menunjukkan
rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua
di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.
Ia  menyatakan  kepada  mereka  bahawa  ia  adalah  kawan  mereka  dan  ingin
memberi  nasihat  dan  petunjuk  untuk  kebaikan  dan  mengekalkan
kebahagiaan  mereka.Segala  cara  dan  kata-kata  halus  digunakan  oleh  Iblis
untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur
dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka.Ia membisikan kepada mereka
bahwa.larangan  Tuhan  kepada  mereka  memakan  buah-buah  yang  ditunjuk
itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi
malaikat  dan  akan  hidup  kekal.Diulang-ulangilah  bujukannya  dengan
menunjukkan  akan  harumnya  bau  pohon  yang  dilarang  indah  bentuk
buahnya  dan  lazat  rasanya.Sehingga  pada  akhirnya  termakanlah  bujukan
yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.
Allah  mencela  perbuatan  mereka  itu  dan  berfirman  yang  bermaksud:
"Tidakkah  Aku  mencegah  kamu  mendekati  pohon  itu  dan  memakan  dari
buahnya  dan  tidakkah  Aku  telah  ingatkan  kamu  bahawa  syaitan  itu  adalah
musuhmu yang nyata."
Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah
terlanggar  perintah  Allah  dan  bahawa  mereka  telah  melakukan  suatu


kesalahan  dan  dosa  besar.Seraya  menyesal  berkatalah  mereka:"Wahai  Tuhan
kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan  Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami
akan  tergolong  orang-orang  yang  rugi  bila  Engkau  tidak  mengampuni  dan
mengasihi kami." 

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi.
Allah  telah  menerima  taubat  Adam  dan  Hawa  serta  mengampuni  perbuatan
pelanggaran  yang  mereka  telah  lakukan  hal  mana  telah  melegakan  dada
mereka  dan  menghilangkan  rasa  sedih  akibat  kelalaian  peringatan  Tuhan
tentang  Iblis  sehingga  terjerumus  menjadi  mangsa  bujukan  dan  rayuannya
yang manis namun berancun itu.
Adam  dan  Hawa  merasa  tenteram  kembali  setelah  menerima  pengampunan
Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan
akan  berusaha  agar  pelanggaran  yang  telah  dilakukan  dan  menimbulkan
murka dan teguran Tuhan itu menjadi pengajaran bagi mereka berdua untuk
lebih  berhati-hati  menghadapi  tipu  daya  dan  bujukan  Iblis  yang  terlaknat
itu.Harapan untuk tinggal terus di syurga yang telah pudar karena perbuatan
pelanggaran  perintah  Allah,hidup  kembali  dalam  hati  dan  fikiran  Adam  dan
Hawa  yang  merasa  kenikmatan  dan  kebahagiaan  hidup  mereka  di  syurga
tidak  akan  terganggu  oleh  sesuatu  dan  bahawa  redha  Allah  serta  rahmatnya
akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.Akan tetapi Allah
telah  menentukan  dalam  takdir-Nya  apa  yang  tidak  terlintas  dalam  hati  dan
tidak  terfikirkan  oleh  mereka.  Allah  s.w.t.yang  telah  menentukan  dalam
takdir-nya  bahawa  bumi  yang  penuh  dengan  kekayaan  untuk
dikelolanya,akan  dikuasai  kepada  manusia  keturunan  Adam  memerintahkan
Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya
yang  bernama  manusia  itu.Berfirmanlah  Allah  kepada  mereka:"Turunlah
kamu  ke  bumi  sebagian  daripada  kamu  menjadi  musuh  bagi  sebagian  yang
lain  kamu  dapat  tinggal  tetap  dan  hidup  disan  sampai  waktu  yang  telah
ditentukan."


Turunlah  Adam  dan  Hawa  ke  bumi  menghadapi  cara  hidup  baru  yang  jauh
berlainan  dengan  hidup  di  syurga  yang  pernah  dialami  dan  yang  tidak  akan
berulang  kembali.Mereka  harus  menempuh  hidup  di  dunia  yang  fana  ini
dengan  suka  dan  dukanya  dan  akan  menurunkan  umat  manusia  yang
beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan
otaknya.Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku
dan  bangsa-bangsa  di  mana  yang  satu  menjadi  musuh  yang  lain  saling
bunuh-membunuh  aniaya-menganianya  dan  tindas-menindas  sehingga  dari
waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin
hamba-hamba-Nya  ke  jalan  yang  lurus  penuh  damai  kasih  sayang  di  antara
sesama  manusia  jalan  yang  menuju  kepada  redha-Nya  dan  kebahagiaan
manusia di dunia dan akhirat. 

Kisah Adam dalam Al-Quran.
Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah
Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38 dan surah Al_A'raaf ayat 11 sehingga 25 

Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam.
Bahawasanya  hikmah  yang  terkandung  dalam  perintah-perintah  dan
larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak
atau belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang
terdekat  sebagaimana  telah  dialami  oleh  para  malaikat  tatkala  diberitahu
bahawa  Allah  akan  menciptakan  manusia - keturunan  Adam  untuk  menjadi
khalifah-Nya  di  bumi  sehingga  mereka  seakan-akan  berkeberatan  dan
bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain
daripada mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan
mengagungkan nama-Nya.

Bahawasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecergasan berfikir dan
kekuatan  fizikal  dan  mental  ia  tetap  mempunyai  beberapa  kelemahan  pada


dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal mana telah terjadi pada diri Nabi
Adam  yang  walaupun  ia  telah  menjadi  manusia  yang  sempurna  dan
dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari
sifat-sifat  manusia  yang  lemah  itu.Ia  telah  lupa  dan  melalaikan  peringatan
Allah  kepadanya  tentang  pohon  terlarang  dan  tentang  Iblis  yang  menjadi
musuhnya  dan  musuh  seluruh  keturunannya,  sehingga  terperangkap  ke
dalam  tipu  daya  dan  terjadilah  pelanggaran  pertama  yang  dilakukan  oleh
manusia terhadap larangan Allah.
Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat
dosa  tidaklah  ia  sepatutnya  berputus  asa  dari  rahmat  dan  ampunan  Tuhan
asalkan ia sedar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya
kembali.Rahmat  allah  dan  maghfirah-Nya  dpt  mencakup  segala  dosa  yang
diperbuat  oleh  hamba-Nya  kecuali  syirik bagaimana  pun  besar  dosa  itu
asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.
Sifat  sombong  dan  congkak  selalu  membawa  akibat  kerugian  dan
kebinasaan.Lihatlah  Iblis  yang  turun  dari  singgahsananya  dilucutkan
kedudukannya  sebagai  seorang  malaikat  dan  diusir  oleh  Allah  dari  syurga
dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga
hari  Kiamat  karena  kesombongannya  dan  kebanggaaannya  dengan  asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam
dan  menolak  untuk  sujud  menghormatinya  walaupun  diperintahkan  oleh
Allah s.w.t.